Jakarta, Beritasatu.com– Dalam jangka pendek tren positif pasar modal Indonesia dinilai akan terjaga dengan masuknya dana asing karena risiko kebijakan pemerintah Tiongkok yang menekan kinerja beberapa korporasi besar di negara Tirai Bambu.
Pendiri komunitas saham Teman Trader Luqman El Hakiem mengatakan, China Regulatory Risk berpotensi menjadi peluang jangka pendek bagi investor pasar modal di Indonesia. Pasalnya, pemerintah Tiongkok memberlakukan aturan baru yang ketat terhadap perusahaan berbasis teknologi. “Ini potensi buat saham-saham yang diinvestasikan oleh Tiongkok di Indonesia. Jangan heran selama beberapa pekan terakhir banyak aliran dana asing masuk lagi ke saham-saham di Indonesia. Karena ada Regulatory Threat dari Tiongkok dan tidak main-main,” kata Luqman saat menjadi pembicara pada investment talk bertajuk “Market Insight Menjelang HUT ke-76 RI” yang digelar secara daring oleh D’Origin Advisory, IGICO Advisory bersama Sahamology, Minggu (1/8/2021).
Luqman mencontohkan beberapa kebijakan pemerintah Tiongkok yang berimplikasi buruk kepada perusahaan-perusahaan besar di negara tersebut seperti Alibaba, JD, GaoTu Tech Edu, Meituan, hingga Didi Kuaidi. Karena itu, perusahaan-perusahaan dengan bisnis sejenis atau yang terafiliasi di Indonesia bisa mendapatkan limpahan modal besar dari market Tiongkok seperti JD.ID, Bukalapak hingga Ruangguru. “Ini akan menjadi peluang di kita untuk berinvestasi. Semua yang terkait dengan Alibaba, Tencent, Softbank, you better buy karena mereka lagi suffer di Tiongkok,” ujarnya optimistis.

Pada kesempatan itu, praktisi pasar modal dari Kurikulum Saham Alex Sukandar mengatakan hal itu menjadi sinyal bagi investor di Tanah Air untuk mengikuti konsep ‘follow the trend and follow the big money.’
Alex melihat ada beberapa sektor saham dengan frekuensi transaksi tinggi. “Kalau tidak ada uang besar di saham tersebut ya memang tidak bergerak. Saya mengembangkan indikator money inflow dan outflow serta frequency behavior. Saya melacak sampai 2 bulan ke belakang, ada inflow di tiga sektor cyclic, infra dan tekno. Ada big money di situ, maka transaksi tinggi,” ujarnya.
Sementara ekonom dari PT Ciptadana Sekuritas Nicko Yosafat menyinggung soal proyeksi pertumbuhan ekonomi global yang direvisi lebih rendah akibat tekanan pandemi Covid-19. World Bank atau Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi global menjadi 5,6% secara year on year (yoy).
Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) mengeluarkan proyeksi ekonomi sedikit lebih tinggi yaitu 6% yoy. Pertumbuhan ini direvisi karena melihat kecenderungan pemulihan ekonomi di berbagai negara, khususnya negara berkembang seperti Indonesia dalam menghadapi pandemi yang lebih berat dibandingkan dengan negara maju.
Hal itu menurunkan estimasi pertumbuhan ekonomi global. Namun dia menyebut proyeksi tersebut bisa berubah bila vaksinasi dilakukan lebih gencar dan merata. “Covid-19 menjadi salah satu penentu perekonomian Indonesia, bahkan dunia. PPKM darurat dan PPKM lainnya itu sudah terlihat ada beberapa penurunan cases meskipun dalam praktiknya beberapa data ada yang anomali,” ujarnya.
Dia mencontohkan, vaksinasi untuk mengejar kekebalan kelompok memacu pertumbuhan dan pergerakan ekonomi di Amerika Serikat dan Eropa. Di Amerika Serikat ekonomi tumbuh 6,5% salah satunya terdorong vaksinasi yang masif.
Artikel ini telah tayang di beritasatu.com dengan judul “Imbas Kebijakan Tiongkok, Pasar Modal Domestik Diprediksi Positif”.
Berita selengkapnya baca :
Nonton ulang tayangannya di :
Recent Comments