Jakarta, Beritasatu.com – Sejumlah analis pasar modal memprediksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan lebih bergairah pada Kuartal IV – 2021 seiring membaiknya perekonomian nasional.
CEO Sucor Sekuritas Bernardus Setya menjelaskan proyeksi kinerja pasar modal dalam negeri akan lebih baik pada kuartal terakhir 2021, karena tren ekonomi global yang menunjukkan sebagian besar negara akan keluar dari zona resesi akibat pandemi Covid-19, termasuk Indonesia.
“Secara konsensus, produk domestik bruto Indonesia mencapai 4% tahun ini. Proyeksi yang cukup signifikan setelah minus 2% pada 2020. Selain itu, optimisme muncul karena dana asing yang masuk ke pasar modal Indonesia cukup kuat pada 2021 dibandingkan tahun lalu,” kata Bernardus saat menjadi pembicara pada seminar daring bertema “Riding Out a Market Downturn” yang diselenggarakan D’Origin dan IGICO Advisory, pada Minggu (5/9/2021).
Ia mengatakan, sejak Februari hingga Desember 2020 bursa efek dalam negeri didominasi dengan penjualan bersih saham oleh investor asing. Puncaknya pada September 2020 penjualan saham oleh investor asing di bursa efek Tanah Air mencapai lebih dari Rp 15 triliun. Adapun pembelian saham yang dilakukan investor asing pada 2020 hanya terlihat pada bulan Mei yang nilainya masih di bawah Rp 10 triliun.
Berbeda dengan 2021 pembelian saham oleh investor asing sangat dominan dengan nilai terbesar terjadi pada Januari mencapai lebih dari Rp 10 triliun. Hal itu pun berlanjut dalam kurun waktu empat bulan terakhir yang mendorong geliat IHSG.
“Kita optimistis mengalami recovery setelah kita mengalami kontraksi yang dalam akibat Covid-19 yang terjadi sejak 2020. Kami melihat IHSG di kisaran 6.600-6.800 di akhir tahun,” ujarnya.
Bernardus memaparkan hal lain yang akan ikut pula memicu IHSG lebih bergeliat. Yaitu menguatnya sektor komoditas, terlebih Indonesia sebagai salah satu pemasok terbesar di dunia. Dia mengatakan harga batu bara naik 86,02% sampai akhir Juli. Pada September harganya mencapai US$ 175 per ton dan menjadi tertinggi sejak 2018.
Demikian juga harga timah yang naik 74,16% dan nikel 18,02%. Di dalam negeri, optimisme pasar pun terdorong oleh keberhasilan pemerintah menekan laju Covid-19 Varian Delta dan memasifkan program vaksinasi. Hal itu lantas memutar kembali roda perekonomian lebih kencang.
Bernardus memberi gambaran, memasuki semester kedua utamanya pada September biasanya merupakan bulan berdarah bagi IHSG. Data menyebutkan, pada bulan tersebut pada periode 2018-2020 IHSG masuk zona merah.
Kendati demikian, data dari 2017-2020 yaitu pada Oktober IHSG selalu di zona hijau dan satu tahun di zona merah. Dia menyebut, pasar pada September memang volatile termasuk pada 2021. Tetapi hal itu adalah kesempatan bagus untuk melirik saham apa yang berpotensi dikoleksi ke depan.
Oleh karena itu, menurutnya investor tak perlu khawatir menghadapi kondisi pasar di akhir tahun karena kecenderungan pasar yang bullish lebih besar.
Optimisme serupa juga diungkapkan Mentor of BBK Trading Tools, Feyara yang mengatakan bursa saham juga terdorong stimulus pemerintah untuk mempercepat pemulihan ekonomi.
“Ada realisasi Program PEN (Pemulihan Ekonomi Nasional) 2021 yang realisasinya 43,9% yaitu Rp 326 triliun. Kemudian peningkatan ekonomi triwulan kedua year on year sekitar 7%,’ ujarnya.
Vice President of Samuel Sekuritas Indonesia M. Alfatih mengatakan pandemi Covid-19 menjadi fenomena yang memukul ekonomi, termasuk pasar modal paling keras jika dibandingkan dengan isu global lainnya. Pandemi Covid-19 menurutnya membuat harga market keluar dari range-nya yang ada sejak 2012.
“Dan sekarang sedang mencoba untuk menembus resisten dari 2018 sebelum berlanjut tren naiknya,” ujarnya.
Founder B-Trade TC yang juga Elliot Wave expert Wijen Pontus menjelaskan proyeksi IHSG melalui dua skenario yang dianalisa dengan skema Elliot Wave. Skenario pertama dan yang kemungkinan besar terjadi adalah skenario optimistis. IHSG akan break di level 6.200-6.400 dalam jangka waktu sekitar satu bulan ke depan dan itu menurutnya adalah level resistensi yang cukup penting.
“Saya sangat optimistis. Begitu break di 6.200-6.400 entah minggu depan atau Oktober, skenario ini confirmed. IHSG artinya akan bullish setahun ke depan. Target kita tahun depan IHSG ke level 6.800 sampai 7000,” ujarnya.
Kendati demikian dia menyebut ada skenario kedua di mana IHSG menyentuh level 6.100 dalam waktu dekat. Sehingga pada akhir tahun IHSG kembali di kisaran 6.800.
Saham Syariah Ikut Naik
Di sisi lain, kondisi perekonomian 2021 yang lebih baik pun dinilai akan ikut mengatrol harga saham syariah. Founder Syariah Saham Asep Muhammad Saepul Islam atau dikenal dengan Mang Amsi, bahkan menandai emiten-emiten pilihan yang masuk dalam saham syariah yang kinerjanya akan moncer hingga akhir tahun ini.
“Ada beberapa saham yang bisa dijadikan alternatif untuk tiga bulan atau empat bulan terakhir di 2021 dengan berkaca pada kinerja pada semester I/2021 dibandingkan periode sama tahun lalu. Misalkan PTBA, UNTR, KLBF, INKP, BTPS dan CTRA,” ujarnya.
Mang Amsi mengatakan akan fokus pada saham syariah yang likuid, dengan pendapatan dan laba yang naik dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Kemudian return on equity (ROE) yang terjaga baik, dan price to book value (PBV) yang wajar serta price earning ratio (PER) yang normal dari beragam sektor industri.Artikel ini telah tayang di trenasia.com dengan judul “Pertumbuhan Sektor Manufaktur Diharapkan Terus Berlanjut Melalui Digitalisasi & Pemulihan Ekonomi.”
Artikel ini telah tayang di beritasatu.com dengan judul “Akhir 2021, IHSG Diprediksi Tembus 6.800″.
Dapatkan ulasan pasar modal terkini: Indonesia Weekly Market Recap (13) 2.9.2021
Klik untuk info event terkini dan ulasan pasar modal harian
Nonton ulang tayangannya di :
Recent Comments