Invasi Rusia dan Komoditas Indonesia

JAKARTA, investor.id – Sanksi boikot ekonomi dari dunia internasional atas invasi Rusia terhadap negara tetangganya, Ukraina, meluas. Berbagai larangan ekspor-impor hingga transaksi keuangan dengan negara komunis itu membuat pasokan komoditas yang semula dari Rusia digantikan negara-negara yang lain. Salah satunya adalah batu bara yang bisa dipasok Indonesia.

Jerman kemungkinan menambah penggunaan batu bara untuk menggantikan gas yang selama ini dipasok dari Rusia, menyusul perluasan sanksi ekonomi yang dimotori NATO setelah invasi Rusia ke Ukraina. Jerman juga mempertimbangkan tidak membeli minyak Rusia. Tercatat makin bertambah banyak negara yang ikut memberikan sanksi ekonomi kepada Rusia, termasuk Korea Selatan dan belakangan Swiss.

Indonesia sebagai negara yang kaya komoditas dinilai memiliki posisi diuntungkan akibat meluasnya sanksi berat atas invasi Rusia ke Ukraina. Sejumlah pengamat pasar modal memproyeksikan hal tersebut akan mendorong optimisme atas harga komoditas, pasar modal, dan ekonomi di Tanah Air.

Founder Forum Saham, Tape Trader8 & Beta Trader Yuzha Sha menjelaskan, tulang punggung ekspor dari Rusia adalah komoditas, mulai dari minyak, gas, batu bara, hingga barang mineral hasil olahan tambang seperti tembaga, berlian, dan emas. “Konflik geopolitik Rusia-Ukraina mendorong kekhawatiran menipisnya pasokan nikel dunia misalnya. Padahal, pada 2021 saja, ekspor nikel Rusia menurun 66,5% menjadi 45.400 ton dari 135.000 ton tahun sebelumnya. Sedangkan Indonesia adalah salah satu negara penghasil nikel terbesar di dunia,” ujarnya dalam keterangan pers usai acara Investment Talk bertema “Ekonomi Indonesia Hebat”, yang digelar baru-baru ini secara daring oleh D ‘ORIGIN Financial & Business Advisory serta IGICO Advisory.

Menurut data badan survei geologis Amerika Serikat (AS) atau US Geological Survey, produksi nikel Indonesia mencapai 1 juta metrik ton pada 2021. RI menyumbang 37,04% nikel dunia.

“Itu akan menjadi salah satu potensi yang menjadikan ekonomi Indonesia hebat kembali. Seperti yang kita tahu, key resource yang ada di dunia ini, sebagai contoh nikel, hanya ada beberapa country yang mempunyai cadangan jutaan ton di dalamnya. Hal lain, belum ada yang bisa menggantikan energi semurah coal. Jadi, memang ini menarik, terutama untuk komoditas baik itu nikel, coal, copper, aluminium dan lain-lain,” ujar Yuzha.

Dorong Supersiklus Komoditas
Mengutip catatan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM),  ekspor batu bara pada 2021 mencapai 435 juta ton. Jumlah ekspor tersebut meningkat dibandingkan dengan pencapaian 2020 yang sebanyak 433,8 juta ton.

“Nah, sanksi atas Rusia itu bisa kembali mendorong supersiklus komoditas, yang membuat harga komoditas pada tahun 1950-an hingga 1960-an naik tinggi, juga pada awal tahun 2000-an. Berkaca pada 2001, kenaikan komoditas tersebut kemudian berlangsung dalam kurun 3-4 tahun, atau maksimal 5 tahun,” paparnya.

Kendati demikian, lanjut dia, kondisi ekonomi global akan lebih baik jika invasi Rusia ke Ukraina segera berakhir. Karena, hal itu dapat menjaga momentum pertumbuhan ekonomi global pascaterhantam pandemi Covid-19.

Di sisi lain, ia mengatakan, ke depan, investor harus memperhatikan faktor lain, yakni pada 2025 Uni Eropa menetapkan kebijakan nir karbon.

“Seperti diketahui, batu bara selalu menjadi kontroversi ketika terkait emisi. Analisa saya, komoditas memang akan berjaya, tetapi potensi akan ada yang sunset komoditas, terutama untuk fuel. Kalau saya akan lebih melihat ke nikel, sebagai alternatif komoditas yang telah menjadi bagian dari hidup kita. Kebutuhan sehari-hari dalam komunikasi dan transaksi, seperti handphone, smart card dan lain lain, terdapat juga komoditas-komoditas basic yang ada di dalam produk-produk tersebut. Hal ini mempunyai potensi untuk mendorong (permintaan) dan otomatis mendorong supersiklus komoditas terjadi,” urainya.

Dengan pertumbuhan itu, kata dia, akan mendorong inflasi karena masyarakat lebih konsumtif sehingga membutuhkan banyak uang beredar.

“Hal ini akan mendorong kebutuhan cadangan emas negara,  yang tentunya akan mengatrol harga logam mulia. Adapun soal minyak sawit mentah atau CPO, akan sangat bergantung pada ketentuan dari Eropa dan mengikuti harga minyak mentah,” ungkap Yuzha.

Dekati Commodity Boom
Senior Portfolio Manager Samuel Aset Manajemen Agung Ramadoni mengatakan, hampir semua harga komoditas dalam kurun satu tahun terakhir meningkat cukup tajam, mendekati level commodity boom pada 2010-2011.

Namun, lanjut dia, hal ini perlu dicermati lebih dalam akankah berkelanjutan atau tidak. Hal itu akan tergantung dari oil capital expenditure (capex) dari mayoritas perusahaan minyak di dunia. Untuk mestimulus mayoritas perusahaan minyak dunia mengeluarkan capex secara progresif, kondisi politik global harus lebih stabil, dengan berhentinya konflik di Eropa.

“Sejauh ini, capex mereka dibandingkan dengan 2011 atau 2014 masih terbilang jauh. Dari segi inventory masih sangat rendah, baik dari copper, nickel, aluminium, dan timah. Masih in early stage bagi harga komoditas saat ini. Jadi, kita tunggu,” ujarnya.

Meski demikian, Agung sudah melihat ekonomi dalam negeri penuh optimisme tahun ini.

“Misalnya di sektor ritel, yang mulai ada perbaikan sejak 2020 yang jatuh akibat terhantam pandemi. Dari perbankan, likuiditas melimpah dengan tingkat kredit bermasalah yang terkendali,” imbuhnya.

Hal ini mendorong ekonomi pulih lebih baik, yang terlihat dari penjualan produk otomotif dan properti yang meningkat. Peningkatan penjualan ini juga didorong insentif pajak ditanggung pemerintah.

Dalam kesempatan yang sama, Founder GaleriSaham.com Rio Rizaldi mengimbau untuk bersikap lebih hati-hati dalam berinvestasi. Kendati ekonomi Indonesia lebih dipenuhi sentimen optimisme pascapandemi, namun ada pula sentimen negatif akibat gejolak geopolitik.

“Analisis pasar, rekam jejak data, kondisi makro dan mikro perlu lebih dipahami dalam menyikapi perkembangan ekonomi. Indikator-indikator ekonomi harus dilihat untuk menentukan price action,” paparnya.

Sementara itu, Founder Syariah Saham Asep M Saepul Islam atau akrab disapa Mang Amsi memberikan rekomendasi pada sejumlah saham emiten dalam konteks sentimen terkait geopolitik Rusia-Ukraina. Dia mengatakan investor bisa berinvestasi pada saham-saham emiten yang terimbas dampak positif dari isu tersebut, seperti UNTR, AALI, INCO, BTPS, ITMG, hingga SIDO.

“Itu karena mereka sudah rilis laporan akhir tahun 2021 dan kinerjanya signifikan naik. Yang full year 2021 membukukan kinerja moncer, terlebih lagi ditopang kenaikan harga CPO, nikel, dan batu bara untuk ITMG, AALI, INCO dan UNTR. Rasio utangnya juga masih di bawah 1 (DER < 1),” tuturnya.

Editor : Esther Nuky (esther@investor.co.id)

Artikel ini telah tayang di investor.id dengan judul “Indonesia Bisa Gantikan Rusia Pasok Komoditas”.

Dapatkan ulasan pasar modal terkini: Indonesian Stocks Join Global Selloff Amid Escalating Russia-Ukraine Crisis

Klik untuk info event terkini dan ulasan pasar modal harian 

https://t.me/D_ORIGIN

Nonton ulang tayangannya di :