Ulasan Pasar Modal 18 Maret 2024

PASAR MODAL

• IHSG Selama sepekan terakhir perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) atau periode 11-15 Maret 2024, rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) mencapai Rp17,12 triliun atau melonjak 63,51% dibandingkan sepekan sebelumnya, yakni Rp10,47 triliun per hari.

Berdasarkan data perdagangan yang dikutip Minggu (17/3), peningkatan kinerja transaksi selama sepekan juga terjadi pada rata-rata frekuensi transaksi harian yang mencapai 1,23 juta kali atau meningkat 1,65% dibandingkan sepekan sebelumnya sebanyak 1,21 juta kali per hari.

Namun demikian, rata-rata volume transaksi harian selama sepekan terakhir tercatat mengalami penurunan 4,94% menjadi 18,68 miliar saham dari 19,65 miliar saham per hari pada sepekan sebelumnya.

Sementara itu, posisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan perdagangan akhir pekan ini berada di level 7.328 atau merosot 0,72% dibandingkan penutupan akhir pekan sebelumnya di 7.381.

Dengan posisi IHSG yang berakhir di level 7.328, maka nilai kapitalisasi pasar pada akhir pekan ini menjadi Rp11.729,57 triliun atau mengalami penurunan 1,06% dibandingkan posisi akhir pekan sebelumnya yang mencapai Rp11.855,57 triliun.

Pada perdagangan Jumat (15/3), investor asing mencatatkan nilai jual bersih Rp1,5 triliun. Adapun untuk sepanjang tahun ini yang berakhir 15 Maret 2023, investor asing sudah mencatatkan nilai beli bersih Rp26,11 triliun.

5 saham paling banyak dibeli asing di seluruh pasar: BMRI, GOTO, PGAS, UNTR, MAPI

5 saham paling banyak dijual asing di seluruh pasar: BBRI, BBNI, BBCA, KLBF, MDKA.

Tercatat beberapa peristiwa penting yang mempengaruhi pergerakan indeks acuan di pasar modal dalam dan luar negeri, antara lain:

– Tingkat inflasi tahunan di AS secara tidak terduga naik tipis menjadi 3,2% pada Februari 2024, dari 3,1% di Januari, dan melebihi perkiraan 3,1%. Di sisi lain, inflasi inti turun menjadi 3,8% dari 3,9%, di atas ekspektasi 3,7%.
– Ekonomi Inggris berekspansi 0,2% mom pada Januari 2024, menyusul penurunan 0,1% pada Desember, dan sesuai dengan perkiraan. Ekonomi rebound setelah resesi teknis yang dialami pada paruh kedua tahun 2023.
– Inflasi harga konsumen Jerman terkonfirmasi sebesar 2,5% yoy pada Februari 2024, laju terendah sejak Juni 2021 dan mendekati target Bank Sentral Eropa sebesar 2,0%.
– Ekonomi Jepang berekspansi 0,4%, berlawanan dengan pembacaan awal dengan penurunan 0,4% dan kontraksi 3,2% yang direvisi ke bawah pada Q3. Belanja bisnis berbalik meningkat berkat dukungan positif kenaikan perdagangan neto karena peningkatan ekspor yang lebih besar dari impor.
– Inflasi ritel tahunan di India sedikit berubah menjadi 5,09% pada Februari 2024, dari 5,1% di Januari, dan perkiraan pasar sebesar 5,02%. Februari merupakan bulan keenam berturut-turut dimana inflasi berada di bawah batas toleransi 6% dari Reserve Bank of India.
– Indeks kepercayaan bisnis NAB, Australia turun tipis menjadi 0 pada Februari 2024 dari 1 pada Januari. Angka-angka tersebut berada di bawah rata-rata jangka panjang, dimana sektor ritel menjadi penghambat utama di tengah biaya pinjaman dan inflasi yang tinggi.
– Surplus perdagangan Indonesia menyempit tajam menjadi $0,87 miliar pada Februari 2024 dari $5,46 miliar pada bulan yang sama tahun 2023, jauh di bawah ekspektasi sebesar $2,32 miliar. Ini adalah surplus perdagangan terkecil sejak Mei lalu, karena ekspor turun sementara impor melonjak.

Dengan kurang dari satu minggu sebelum rapat FOMC berikutnya, pelaku pasar akan mengawasi sikap The Fed terutama setelah rilis data inflasi baru-baru ini dimana data utama (3,2% vs ekspektasi 3,1%) dan CPI inti (3,8% vs ekspektasi 3,7%) berada di atas ekspektasi. Selain itu, angka PPI tahunan juga lebih tinggi dari yang diharapkan yaitu 1,6% vs ekspektasi 1,1%.

Rapat FOMC mendatang dapat menentukan nada dan ekspektasi dari the Fed sehubungan dengan data-data terbaru, terutama dengan antisipasi rilis dot plot yang setiap kuartal.

Berdasarkan data dari CME FedWatch Tool, pasar masih memperkirakan suku bunga akan mulai turun di bulan Juni dengan total 75 bps hingga akhir tahun, sesuai dengan dot plot pada Desember lalu.

Analis dari Ashmore merekomendasikan untuk tetap melakukan diversifikasi di antara saham dan pendapatan tetap, untuk mendapatkan keuntungan dari pivot yang diantisipasi pada suku bunga karena investor global akan mencari aset yang lebih berisiko seperti emerging market.

Ekuitas Indonesia tetap menarik karena ada kepercayaan yang lebih besar terhadap kebijakan pro pertumbuhan dari pemerintah baru.

==========

Disclaimer :
Perdagangan Beli Jual Saham adalah instrument investasi yang memiliki risiko kerugian.
Semua postingan di laman ini bertujuan utama untuk berbagi informasi seputar market dengan analisa untuk meminimalisirkan risiko.
Setiap keputusan transaksi beli jual ada di tangan Anda masing-masing.
Kami tidak bertanggung jawab atas keuntungan ataupun kerugian yang ditimbulkan atas transaksi beli jual yang Anda lakukan.

Anda perlu detail Ulasan Pasar dalam format PDF? Klik link di bawah ini : 

Untuk Kopi Pagi: Ulasan Pasar Modal 15 Maret 2024 :
Kopi Pagi : Ulasan Pasar Modal 15 Maret 2024

Follow our IG or click the link to see all of our upcoming events and the latest news on the stock market :