Saham IPCC Diprediksi Tumbuh Eksponansial Bila Penggabungan Pelindo I-IV Terealisasi

Jakarta, investor.id – Teknikal Analis dari Komunitas Investor Cafe Handi Erawan memprediksi ada perbaikan kinerja harga saham PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC) hingga akhir tahun 2021. Sejalan dengan adanya pertumbuhan pendapatan dan potensi aksi korporasi penggabungan Pelindo I-IV, dari sisi performa saham IPCC diprediksi mampu tumbuh eksponansial.

PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk atau IPCC merupakan anak usaha dari BUMN kepelabuhan, PT Pelindo II (Persero). Pelindo II ini mengoperasikan 12 cabang pelabuhan, yakni Cabang Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta Utara, Cabang Pelabuhan Sunda Kelapa di Jakarta Utara, Cabang Pelabuhan Cirebon di Jawa Barat, dan Cabang Pelabuhan Banten di Banten. Selain itu, Cabang Pelabuhan Palembang di Sumatera Selatan, Cabang Pelabuhan Panjang di Lampung, Cabang Pelabuhan Pontianak di Kalimantan Barat, Cabang Pelabuhan Teluk Bayur di Sumatera Selatan, Cabang Pelabuhan Bengkulu di Bengkulu, Cabang Pelabuhan Jambi di Jambi, Cabang Pelabuhan Pangkal Balam di Bangka Belitung, dan Cabang Pelabuhan Tanjung Pandan di Bangka Belitung.

“Efek positif dari proses digitalisasi juga diperkirakan mampu mendorong kenaikan harga saham IPCC di pasar, yang saat ini masih berada di bawah harga IPO. Prediksi pergerakan harga ke depan berada di kisaran hingga Rp 735 per saham,” katanya dalam keterangan tertulis, Rabu (11/8).

Sementara itu, pada perdagangan di BEI 10 Agustus 2021, saham IPCC ditutup pada harga Rp 630.

Menguatnya kinerja IPCC itu juga akan didorong sektor manufaktur yang mulai menunjukkan tajinya di sepanjang semester I tahun ini. Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang diperlonggar juga diharapkan bisa menjaga pertumbuhan kinerja sektor tersebut.

Selain itu, ekspor maupun impor Indonesia tercatat melonjak tinggi.

Ekspor Melesat 54,46%
Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pekan lalu, sumbangsih sektor manufaktur tercatat yang tertinggi terhadap pertumbuhan ekonomi triwulan II-2021, yakni sekitar 1,35%. Pada periode ini, sektor manufaktur mencatatkan pertumbuhan 6,91% kendati ekonomi masih diadang pandemi.

Sektor manufaktur juga menjadi kontributor terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional pada triwulan II tahun ini, yakni sebesar 17,34%. Selain itu, kinerja ekspor sektor manufaktur pada semester I-2021 tercatat menembus US$ 81,06 miliar. Jumlah itu setara 78,80% dari total ekspor nasional yang mencapai US$ 102,87 miliar.

Maryadi Laksmono, praktisi pasar modal sekaligus pendiri komunitas Investor Cafe, mengatakan hasil positif tersebut diharapkan juga bisa menular ke kinerja saham emiten sektor manufaktur. Dia menilai perbaikan kinerja tersebut tak terlepas dari pulihnya kegiatan masyarakat.

“Update terakhir sampai dengan semester I-2021, beberapa sudah mulai membaik kinerjanya, kalau saya lihat. Aktivitas dari masyarakat yang sepanjang semester I sudah mulai pulih meningkatkan kinerja mereka. Aktivitas masyarakat menopang permintaan, sehingga bisa membukukan kinerja yang membaik,” katanya.

Sementara itu, BPS mencatat, ekspor Indonesia Juni 2021 mencapai US$ 18,55 miliar, naik 9,52% dibanding ekspor Mei 2021. Bahkan, dibanding Juni 2020, ekspor melonjak 54,46%.

Impor Indonesia Juni 2021 juga menembus US$ 17,23 miliar, naik 21,03% dibandingkan Mei 2021. Impor ini melambung 60,12% dibandingkan Juni 2020.

Ditopang Stimulus
Cynthia Nadeak, direktur D’Origin, menambahkan pada Juli lalu pemerintah menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat atau Level 4 untuk menekan laju pandemi Covid-19. PPKM kemudian diperpanjang dan hal ini memang akan menjadi tantangan bagi pelaku ekonomi di semester II-2021.

“Namun, stimulus berupa kebijakan fiskal dan upaya pemerintah menekan laju pandemi Covid-19 di sepanjang tahun ini kami nilai akan menekan risiko PPKM yang masih diperpanjang hingga kini. Apa yang dilakukan pemerintah sudah mewakili. Stimulus membuat kinerja emiten (tertolong) membaik. Sentimen positif bisa juga datang dari luar, pelaku pasar melihat upaya pemerintah menggalakkan vaksinasi menumbuhkan persepsi baik dan sentimen positif yang bisa menggerakkan harga saham,” tuturnya.

Ia juga menjelaskan membaiknya prospek salah satu emiten yang bersinggungan dengan industri manufaktur, yakni IPCC. Perusahaan pelat merah tersebut bergerak di bidang usaha pepelabuhanan (port) yang menyediakan layanan bongkar muat di Terminal Kendaraan. IPCC menjadi bagian dari mata rantai ekosistem logistik industri otomotif di Tanah Air.

Dipengaruhi Tren Otomotif 
Investor Relations IPCC Reza Priyambada menilai ada harapan pertumbuhan kinerja sektor manufaktur hingga akhir 2021. Pelaku usaha di sektor tersebut setidaknya sudah beradaptasi dengan kondisi menantang karena pandemi Covid-19 sejak Maret tahun lalu.

Dia menilai, performa sektor manufaktur masih dapat bertumbuh di masa pandemi. “Emiten manufaktur ataupun yang terkait harus mampu menunjukkan perbaikan dan efisiensi kinerja, untuk menarik minat investor,” imbuhnya.

Sedangkan Presiden Direktur IPCC Rio TN Lasse mengatakan, kegiatan perseroan sangat dipengaruhi oleh tren di industri otomotif. Pada 2020, kinerja IPCC sempat mengalami penurunan karena terimbas pandemi Covid-19.

“Namun, pendapatan IPCC pada semester I-2021 dari Terminal Domestik mencapai Rp 55,85 miliar, naik dari periode yang sama pada 2020 yang hanya Rp 44,28 miliar. Adapun pendapatan dari Terminal Internasional pada paruh pertama 2021 mencapai Rp 177,17 miliar, naik dari periode yang sama 2020 sebesar Rp 130,83 miliar,” paparnya.

Hal itu berpengaruh pada saham IPCC yang saat ini sedang dalam tren naik pascapengumuman kinerja keuangan dan operasional yang kian positif. Sebelummya, harga saham IPCC saat IPO pada 2018 sempat mencapai tertinggi di level Rp 1.715 per lembar, namun karena pandemi sempat menyentuh Rp 232 yaitu pada Maret 2020. Saat ini, saham IPCC kembali merangkak di kisaran Rp 480 hingga mendekati Rp 700.

“Pada semester I-2021 kita rebound karena kondisi manufaktur, terutama otomotif yang sudah lebih baik, seiring pemulihan di negara tujuan ekspor dan pelonggaran pembatasan aktivitas masyarakat di negara tujuan ekspor,” katanya dalam diskusi daring yang digelar D Origin Advisory bekerja sama dengan Komunitas Investor Cafe & IGICO Advisory yang bertemakan “IPCC Goes Digital” pada Selasa (10/8).

Menurut Rio, untuk kembali mengerek harga saham, pihaknya memperkuat aspek fundamental, layanan, hingga kinerja secara keseluruhan. Ini termasuk melalui digitalisasi layanan terminal kendaraan (digitalization car terminal services).

Lebih lanjut, menurut Direktur Keuangan & Human Capital IPCC Feri Irawan, adanya era teknologi turut berperan dan mendukung terciptanya ekosistem rantai logistik, sehingga memungkinkan kegiatan logistik berjalan dengan efektif dan lebih efisien. “Proses digitalisasi pada industri logistik membuat flow of goods bisa ter-tracking dengan lebih baik, mulai dari pemesanan, proses administrasi hingga proses receiving/delivering-nya. Ditambah dengan proses pembayaran dan penerimaan flow of money yang lebih ringkas karena terkoneksi dengan sistem pembayaran dan keuangan,” ujar Feri.

Editor : Esther Nuky (esther@investor.co.id)

Artikel ini telah tayang di investor.id dengan judul “Saham IPCC Diprediksi Tumbuh Eksponansial Bila Penggabungan Pelindo I-IV Terealisasi″.

Nonton ulang tayangannya di :

 

Sahabat Origin ingin dapatkan ulasan mingguan pasar modal? Kami telah merangkumnya Market Review (6) 09.08.2021